
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menuai sorotan publik setelah dinilai belum mencerminkan prinsip gizi seimbang. Kritik keras dilontarkan dr Tan Shot Yen dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (22/9) lalu, yang menilai menu MBG tidak cukup sehat untuk anak sekolah.
Perdebatan semakin meluas di kalangan masyarakat, akademisi, hingga praktisi kesehatan. Banyak pihak menilai bahwa menu MBG sebaiknya mengikuti standar nasional pedoman gizi yang sudah lama dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Program MBG sangat baik, tetapi harus didasarkan pada pedoman ‘Isi Piringku’ agar benar-benar menyehatkan. Pedoman ini dirancang oleh para ahli gizi Indonesia sebagai penyempurnaan terbaru untuk pola makan seimbang,” ujar Peneliti Kesehatan Masyarakat, Dani Satria, M.Kes di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (04/10/2025).
Menurut Dani, pedoman Isi Piringku bukan hanya menjelaskan jenis makanan dan minuman yang perlu dikonsumsi. Lebih dari itu, pedoman ini juga memberikan panduan terkait jumlah dan porsi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi harian secara menyeluruh.
“Dalam satu piring makan, setengahnya diisi sayuran dan buah, sementara setengah lainnya berisi makanan pokok serta lauk pauk. Pedoman ini juga mengingatkan pentingnya minum cukup air, rajin beraktivitas fisik, serta menjaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah makan,” imbuh Dani.
Seperti diketahui, Kemenkes menegaskan bahwa pedoman Isi Piringku adalah bagian dari kampanye gizi seimbang yang harus diterapkan di semua program makan masyarakat. Dengan demikian, MBG semestinya bukan sekadar memberikan makanan gratis, tetapi juga memastikan anak-anak terbiasa dengan pola makan sehat sejak dini.
“Penerapan Isi Piringku dalam program MBG dapat mengurangi risiko kekurangan maupun kelebihan gizi pada anak sekolah. Selain itu, penerapan pedoman ini juga diyakini mampu mencetak generasi yang lebih sehat dan produktif,” pungkas Dani.












