
Seorang warga Kendal, Dani Satria (34) menemukan seekor katak yang tidak biasa di sebuah sumur tua di tengah kebun warga di Desa Tanjungmojo, Kecamatan Kangkung, kawasan Pantai Utara (Pantura) Kendal, sekitar lima kilometer dari garis pantai. Katak tersebut memiliki tubuh ramping, kulit halus berwarna cokelat, kaki belakang yang panjang, serta garis memanjang di bagian punggung. Penampilannya sangat berbeda dengan kodok buduk (Duttaphrynus melanostictus) yang umum dijumpai di pekarangan rumah.
Beberapa orang warga sekitar lainnya menyebutnya sebagai “katak terbang”. Menurut ingatannya, ketika masih kecil ia sering melihat katak tersebut berkembang biak di pepohonan. Cerita itu memunculkan rasa penasaran.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa katak temuan tersebut sangat mungkin merupakan Katak Pohon Bergaris (Polypedates leucomystax), anggota famili Rhacophoridae. Dugaan ini didasarkan pada beberapa karakter yang tampak pada foto, yaitu tubuh yang ramping, kulit yang relatif halus, kepala yang agak meruncing, serta adanya garis terang di bagian punggung. Spesies ini dikenal memiliki variasi warna yang cukup luas, mulai dari krem hingga cokelat tua, sehingga identifikasi berdasarkan warna saja tidak cukup. Polypedates leucomystax juga merupakan spesies yang tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan mampu beradaptasi pada berbagai habitat, mulai dari hutan, semak, lahan pertanian, hingga lingkungan permukiman manusia. Status konservasinya menurut IUCN adalah Least Concern, yang berarti belum termasuk spesies yang terancam punah.
“Hal yang menarik adalah lokasi penemuannya. Beberapa artikel populer di internet menyebut bahwa katak ini hidup pada ketinggian sekitar 750–1.500 meter di atas permukaan laut. Namun, informasi tersebut tampaknya tidak dapat digeneralisasi. Berbagai referensi ilmiah justru menunjukkan bahwa Polypedates leucomystax memiliki sebaran habitat yang sangat luas dan sering ditemukan di dataran rendah, kawasan perkebunan, bahkan dekat permukiman manusia. Spesies ini aktif pada malam hari, memanfaatkan pohon, semak dan vegetasi sebagai tempat bertengger, kemudian turun untuk mencari makan atau berkembang biak di sekitar sumber air. Dengan demikian, keberadaan seekor katak pohon di sebuah kebun Pantura Kendal yang hanya beberapa meter di atas permukaan laut bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah, melainkan menunjukkan kemampuan adaptasi spesies ini terhadap berbagai kondisi lingkungan,” kata Seorang warga Kendal, Dani Satria (34), di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (18/07/2026).
Cerita warga sekitar yang menyebut katak tersebut sebagai “katak terbang” juga menarik untuk dicermati. Dalam ilmu herpetologi, istilah “katak terbang” umumnya digunakan untuk beberapa spesies dalam genus Rhacophorus yang memiliki selaput kaki sangat lebar sehingga mampu meluncur dari pohon ke pohon. Sementara itu, Polypedates leucomystax tidak benar-benar dapat meluncur, tetapi tetap merupakan katak arboreal yang piawai memanjat pohon menggunakan bantalan perekat pada ujung jarinya. Pengetahuan lokal kemungkinan menggabungkan kedua kelompok katak tersebut ke dalam satu sebutan karena sama-sama hidup di pepohonan dan berkembang biak dengan membuat sarang busa pada vegetasi di atas air. Ketika telur menetas, berudu akan jatuh ke dalam genangan atau kolam di bawahnya. Fenomena reproduksi inilah yang mungkin melatarbelakangi cerita turun-temurun bahwa katak tersebut “bertelur di pohon”.
Dani menambahkan, temuan sederhana ini menjadi pengingat bahwa keanekaragaman hayati masih dapat dijumpai di sekitar lingkungan tempat tinggal, bahkan di sebuah sumur tua di tengah kebun. Observasi lapangan seperti ini juga menunjukkan pentingnya menggabungkan dokumentasi, pengetahuan lokal dan literatur ilmiah sebelum menarik suatu kesimpulan. “Identifikasi yang saya lakukan masih bersifat dugaan berdasarkan dokumentasi foto, sehingga konfirmasi lebih lanjut oleh herpetolog atau melalui pengamatan ciri morfologi yang lebih lengkap tetap diperlukan. Namun demikian, catatan kecil ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi awal mengenai keberadaan katak pohon di kawasan Pantura Kendal sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih mengenal dan menghargai kekayaan biodiversitas yang masih hidup di sekitar kita,” pungkas Dani.










