Curah hujan yang tinggi pada Desember 2025 membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah mengalami peningkatan debit air sungai. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat karena beberapa aliran sungai kecil mulai menunjukkan potensi tanda-tanda penyempitan.
Sungai Blukar, yang membentang melalui berbagai di wilayah pedesaan Kendal, menjadi salah satu titik rawan akibat sedimentasi yang semakin menumpuk. Aliran air berisiko untuk tersendat sehingga berpotensi membuat kapasitas tampung sungai menurun.
Ketua Bidang X yang membidangi Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan pada Badan Pengurus Cabang (BPC), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kendal, Dani Satria mengobservasi sungai Blukar di sekitar Desa Truko, Tlahab dan Gondang. Berdasarkan observasi, Sungai Blukar memiliki peran yang vital di kawasan pedesaan dan berfungsi sebagai drainase alami bagi lahan pertanian serta permukiman di sekitarnya.
“Saya melihat adanya sedimentasi yang cukup signifikan di beberapa titik Sungai Blukar ini. Terlihat dari dasar sungai yang cukup dangkal dan aliran air yang menyempit akibat tingginya endapan lumpur. Selain itu, vegetasi liar yang tumbuh lebat di tepian sungai juga menunjukkan kurangnya pengelolaan bantaran, sehingga proses erosi tanah semakin memperparah sedimentasi. Kondisi ini berpotensi menurunkan kapasitas tampung sungai dan meningkatkan risiko luapan saat curah hujan tinggi, sehingga diperlukan upaya normalisasi dan pengelolaan ekologis yang tepat,” kata Ketua Bidang X (Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan), Badan Pengurus Cabang (BPC), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kendal, Dani Satria di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (04/12/2025).
Dani menambahkan, selain normalisasi, warga juga dihimbau untuk menjaga kebersihan sungai dengan mengurangi pembuangan sampah ke aliran air. Langkah ini diharapkan dapat membantu mempertahankan kelancaran aliran dan mencegah penyempitan.
Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, upaya mitigasi banjir menjadi sangat mendesak untuk dilakukan. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret agar Sungai Blukar tidak menjadi sumber genangan dan banjir pada puncak musim hujan.
“Normalisasi menjadi langkah yang harus segera dilakukan untuk mengembalikan fungsi Sungai Blukar agar stabil saat hujan lebat,” pungkas Dani.
Profesi ahli gizi bukan sekadar label profesionalisme—mereka adalah penjamin mutu pangan, perancang menu sesuai kebutuhan fisiologis kelompok usia, dan pengawas penerapan standar keamanan pangan di lapangan. Dalam konteks program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), kehadiran ahli gizi menjamin bahwa intervensi makanan tidak hanya terasa enak tetapi juga memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien yang dibutuhkan anak-anak sebagai investasi masa depan bangsa.
Kritik terhadap pelaksanaan MBG belakangan menyingkap betapa rapuhnya sebuah program ketika aspek teknis gizi dikorbankan: laporan keracunan massal di berbagai daerah, menu yang sarat makanan ultraprocessed, dan persoalan logistik menunjukan bahwa penyediaan “makanan bergizi” bukan sekadar membagikan porsi—melainkan rangkaian keputusan teknis yang kompleks. Kasus-kasus tersebut menunjukkan konsekuensi nyata bila pengawasan gizi dan sanitasi tidak dijalankan secara profesional.
Malangnya, polemik terakhir juga dipicu oleh pernyataan sebagian politisi yang meremehkan peran ahli gizi, menyarankan pengawasan sederhana atau “tenaga pengawas” menggantikan keahlian gizi formal. Sikap seperti ini tidak hanya mengabaikan bukti ilmiah tentang kebutuhan asesmen nutrisi dan formulasi menu, tetapi juga memperburuk kepercayaan publik terhadap program yang mestinya melindungi anak. Reaksi masyarakat dan organisasi profesi menunjukkan bahwa pernyataan meremehkan itu memicu keresahan yang valid.
Respons yang bijak dari pengambil kebijakan dan lembaga terkait—termasuk penegasan bahwa MBG wajib melibatkan ahli gizi—adalah langkah yang tepat dan harus segera diikuti dengan perbaikan prosedur operasional, audit mutu, dan transparansi kontrak penyedia. Menempatkan ahli gizi di jantung tata kelola program akan memperkecil risiko kesehatan, mendorong penggunaan bahan lokal yang lebih tepat gizi, serta membantu menata rantai pasok agar aman dan bertanggung jawab. Pernyataan tegas dari otoritas terkait memperlihatkan arah korektif yang perlu dipercepat.
Kesimpulannya, menggantikan profesi ahli gizi dengan solusi pragmatis tanpa dasar ilmiah adalah resep untuk kegagalan program dan potensi bahaya bagi anak-anak. MBG punya tujuan mulia, tetapi niat baik harus dipadukan dengan kompetensi—kehadiran ahli gizi bukan kemewahan birokratis, melainkan kebutuhan teknis yang menentukan apakah program itu menyelamatkan atau justru membahayakan generasi penerus. Untuk itu, perbaikan struktur, akuntabilitas, dan keterlibatan ahli profesional harus menjadi prioritas utama.
Sate Bumbon merupakan salah satu kuliner khas dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah yang memadukan daging sapi empuk dengan bumbu kacang dan sayur lodeh nangka muda sebagai pelengkap.
Cita rasa manis-gurih dari gula aren dan kecap, serta tambahan rempah khas lokal membuat sate ini berbeda dengan sate pada umumnya. Sate bumbon ini sangat kaya akan bumbu lezat.
“Saya datang ke Kendal malam untuk berburu Sate Bumbon. Dagingnya empuk dan lezat, yang paling menggoda adalah bumbunya yang sangat khas dengan butiran kacang yang menggugah selera,” kata seorang pengunjung bernama Dani Satria (34), di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (15/11/2025) malam.
Menurut informasi dari warga, warung-warung yang menyajikan Sate Bumbon telah eksis sejak awal 1970-an di Kendal, dan hingga kini menjadi destinasi wajib bagi pecinta kuliner lokal.
“Saya bahkan bisa menentukan seberapa pedas takaran bumbunya. Sate khas Kendal ini banyak ditemui di area ‘Jalan Tembus’ atau Jalan Tentara Pelajar Kendal, disana banyak rumah makan Sate Bumbon yang berdiri,” imbuh Dani.
Pengunjung biasanya menikmati seporsi sate bersama lontong atau nasi, sambal kacang, serta sayur lodeh, menciptakan pengalaman menyantap yang kaya tekstur dan rasa.
Sate Bumbon ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga warisan kuliner yang menggambarkan identitas kuliner Kendal. Mari kunjungi warung-warung lokal di Kendal dan rasakan sendiri kelezatan autentiknya sambil mendukung pelaku usaha makanan tradisional.
Seorang warga Kabupaten Kendal, Jawa Tengah bernama Dani Satria (34) yang juga pendiri Balai Konservasi Artefak Desa (Bakonardes) menemukan sebuah batu pasir yang diduga merupakan artefak dari masa Paleolitikum di area bekas sawah yang kini telah berubah menjadi sebuah restoran. Sawah tersebut sebelumnya diurug menggunakan berbagai jenis batu-batuan dari daerah lain, yang kemungkinan besar berasal dari wilayah perbukitan di bagian selatan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Berdasarkan pengamatan visual, batu pasir seberat sekitar 3 kilogram tersebut menampilkan pola pahatan yang menyerupai bentuk dua lingkaran yang hampir sempurna pada permukaannya. Bentuk ukiran tersebut tampak tidak terbentuk secara alami, sehingga menimbulkan dugaan kuat bahwa batu itu hasil intervensi kehidupan kebudayaan pada masa prasejarah. Fenomena ini juga sering terjadi pada situs purba pada penemuan empiris sebelumnya.
“Saya menemukan artefak ini secara tidak sengaja saat melihat tumpukan batu di dekat area parkir restoran. Saat saya amati lebih dekat, saya melihat permukaan batu itu memiliki pola melingkar yang rapi, seolah pernah dipahat dengan alat sederhana,” kata Pendiri Balai Konservasi Artefak Desa (Bakonardes), Dani Satria (34), di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (15/11/2025).
Tekstur dan jenis batu yang dipahat menyerupai batuan sedimen kasar atau batu pasir kuarsa yang menunjukkan bahwa benda tersebut berpotensi digunakan sebagai media pahatan oleh manusia prasejarah. Batu jenis ini dikenal cukup keras namun masih memungkinkan untuk dibentuk, sehingga sering digunakan pada masa Paleolitikum untuk dibuat simbol pahatan atau tanda sederhana.
“Tentunya, saya tidak berani langsung menyimpulkan bahwa ini artefak asli, tapi pola simetrisnya terlalu teratur untuk disebut kebetulan alam. Bisa jadi ini peninggalan dari aktivitas kehidupan paleolitikum di wilayah Kendal yang dahulu mungkin merupakan jalur migrasi atau tempat tinggal awal manusia prasejarah,” imbuh Dani.
Pola melingkar dan cekungan pada batu tersebut memiliki karakteristik yang mirip dengan cup mark atau cupule, yaitu tanda-tanda cekungan kecil yang sering ditemukan pada batu-batu prasejarah di berbagai situs dunia. Dalam konteks arkeologi, bentuk seperti ini kerap dihubungkan dengan aktivitas simbolik, ritual atau bahkan sistem komunikasi sederhana yang berkembang jauh sebelum zaman tulisan.
Namun demikian, penemuan ini perlu dilakukan analisis lebih lanjut secara ilmiah untuk memastikan keaslian dan umur batu tersebut. Pemeriksaan mikroskopis terhadap bekas pukulan, uji petrografi untuk melihat tingkat pelapukan perlu dilakukan untuk menentukan apakah batu tersebut memang merupakan artefak prasejarah.
Apabila hasil kajian arkeologis nanti mengonfirmasi bahwa batu tersebut benar hasil tangan manusia di era paleolitikum, maka penemuan ini akan menjadi catatan penting bagi sejarah prasejarah Kendal dan Jawa Tengah. Batu tersebut bisa menjadi bukti bahwa wilayah ini pernah dihuni oleh komunitas manusia prasejarah yang memiliki kesadaran simbolik dan kemampuan teknologi pahatan sederhana pada masa Paleolitikum.
Badan Gizi Nasional (BGN) dibentuk untuk mengoordinasikan dan melaksanakan kebijakan pemenuhan gizi nasional, terutama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk menyusun kebijakan teknis, pengawasan pelaksanaan, dan pendistribusian gizi. BGN juga mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni unit operasional di lapangan yang bertugas menyiapkan dan menyalurkan makanan bergizi kepada sasaran prioritas seperti anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Namun, BGN menghadapi sejumlah kendala, seperti kecepatan verifikasi dan kesiapan fasilitas di lapangan serta tantangan dalam menjangkau seluruh kabupaten, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
SPPG terbukti memiliki dampak signifikan dalam menggerakkan roda perekonomian di desa, karena sebagian besar bahan baku makanan dikonsumsi berasal dari UMKM dan petani lokal. Melalui kemitraan dengan BUMDes, setiap SPPG secara rutin menyerap produk pangan lokal — seperti sayur, buah, dan ayam — sehingga menciptakan permintaan stabil dan menumbuhkan wirausaha desa. Selain itu, pendirian SPPG di desa-desa membuka lapangan kerja langsung bagi puluhan warga, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan lokal yang mendukung ketahanan ekonomi di tingkat akar rumput.
Seperti halnya SPPG di Tanjungmojo, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal hadir sebagai salah satu pusat pemberdayaan masyarakat di tingkat desa yang memiliki peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian lokal. SPPG Tanjungmojo menjadi salah satu contoh unit layanan pangan bergizi yang mampu mendorong pemberdayaan masyarakat di tingkat desa. Program ini mengutamakan perekrutan tenaga kerja dari warga setempat, mulai dari pengolahan bahan pangan, distribusi paket gizi, hingga pengelolaan operasional harian, sehingga menciptakan kesempatan kerja yang stabil bagi masyarakat.
Selain memberikan lapangan kerja, SPPG Tanjungmojo juga membantu menggerakkan ekonomi desa melalui kemitraan dengan UMKM pangan lokal, petani sayur, dan pedagang harian di pasar desa. Pola ini menciptakan rantai ekonomi yang saling menguatkan, karena kebutuhan bahan baku dipenuhi oleh produsen lokal dan hasil olahan gizi kembali memberi manfaat langsung bagi warga Tanjungmojo.
Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim telah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia dalam skandal pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek periode 2019–2022. Dugaan korupsi ini terkait dengan pengadaan perangkat senilai hampir Rp 10 triliun yang ditengarai merugikan negara sekitar Rp 1,9 triliun. Proses hukum yang berjalan mencakup penolakan pengajuan praperadilan oleh Nadiem untuk membatalkan status tersangka, yang berarti bahwa proses penyidikan akan terus berlanjut.
Beberapa waktu lalu, publik dibuat heboh dengan beredarnya video yang memperlihatkan tatapan mata kosong Nadiem Makarim. Tampak Nadiem sedang duduk di sebuah kursi. Ia terlihat memakai kemeja putih dan rompi warna merah muda. Di video itu, Nadiem tampak sedang diperiksa oleh petugas. Namun, saat proses tersebut, Nadiem terlihat berekspresi datar. Banyak yang melihat ekspresinya bukan sekadar cerminan keterkejutan seorang mantan pejabat tinggi, tapi juga simbol kelelahan batin dari seseorang yang dulu dikenal penuh semangat perubahan. Dari situ muncul pertanyaan besar: apakah Nadiem Makarim adalah korban politis, ataukah ia memang terseret dalam sistem yang rumit dan penuh jebakan di dunia kekuasaan?
Sebagai sosok visioner di dunia startup Indonesia, Nadiem dikenal bukan hanya sebagai pendiri Gojek, tetapi juga simbol transformasi digital anak muda. Pada masa kejayaannya antara tahun 2015 hingga 2019, Gojek bukan sekadar aplikasi transportasi, melainkan gerakan sosial dan ekonomi yang mengubah cara hidup jutaan orang. Ia mengubah wajah pekerjaan informal menjadi ekosistem digital yang efisien, membuka peluang kerja baru, dan memantik semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda. Saya sendiri termasuk orang yang terinspirasi oleh langkah Nadiem. Saat pertama kali ia datang ke Balai Kota DKI untuk membicarakan kerjasama Gojek dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya TransJakarta, saya ada di sana. Auranya waktu itu benar-benar mencerminkan spirit perubahan — muda, energik dan penuh ide segar.
Saya bahkan pernah mengirim pesan kepadanya untuk memberikan beberapa pernyataan tentang kolaborasi tersebut, dan ia dengan ramah membalas. Setelah itu, Gojek melesat menjadi unicorn pertama Indonesia dan melakukan ekspansi ke berbagai kota di seluruh negeri. Nama Nadiem Makarim melejit bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat Asia. Ia dianggap pionir startup yang berhasil menyeimbangkan inovasi teknologi dengan nilai sosial. Maka ketika ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2019, banyak yang menaruh harapan besar. Namun, jabatan politis itu, yang awalnya tampak sebagai puncak karier ideal, kini berubah menjadi sumber cobaan berat yang menguji reputasi dan integritasnya.
Dalam wawancara dengan majalah Rolling Stone Indonesia pada tahun 2016, Nadiem pernah menyatakan bahwa ia ingin suatu hari bisa berkontribusi lebih luas bagi masyarakat, bahkan menjadi menteri pendidikan. Cita-cita itu pun terwujud. Tapi siapa sangka, justru dari sinilah segalanya menjadi rumit. Menjadi pejabat publik berarti masuk ke ruang penuh intrik, kepentingan, dan tekanan politik yang berbeda jauh dari dunia startup yang dinamis dan meritokratis. Dalam dunia politik, kebenaran seringkali bersinggungan dengan kepentingan. Tak semua idealisme bisa diwujudkan tanpa kompromi.
Kasus yang kini menimpa Nadiem bisa menjadi refleksi bagi banyak profesional muda yang bermimpi membawa perubahan dari dalam sistem pemerintahan. Ada risiko besar ketika seseorang yang tumbuh dalam kultur profesional dan transparan mencoba masuk ke ranah politik yang penuh kepentingan. Dunia politik tidak selalu menilai seseorang dari niat baik atau kinerja, tapi sering kali dari posisi, kekuatan, dan pengaruh. Bagi para profesional, jabatan politis bisa menjadi medan berbahaya yang menggerus idealisme dan reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Dari kasus ini, pelajaran berharga bisa kita petik: jika Anda sudah sukses dan berkontribusi besar di bidang Anda, jangan mudah tergiur oleh jabatan politis. Kekuasaan bukan satu-satunya jalan untuk membawa perubahan. Justru, banyak perubahan besar lahir dari luar sistem — dari dunia pendidikan, bisnis, atau komunitas sosial. Nadiem Makarim telah membuktikan bahwa inovasi bisa menggerakkan bangsa tanpa harus duduk di kursi politik. Namun kini, kisahnya juga mengingatkan kita bahwa kekuasaan memiliki sisi gelap yang bisa menelan bahkan mereka yang paling visioner.
“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”
Ayat tersebut dapat ditafsirkan bahwa para ibu dianjurkan untuk menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan masa penyusuan. Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya peran ibu dalam memberikan nutrisi terbaik bagi anak melalui air susu ibu (ASI), yang tidak hanya mendukung pertumbuhan fisik dan kesehatan anak, tetapi juga membentuk ikatan emosional dan spiritual antara ibu serta anak. Lebih jauh, ayat ini mengandung pesan tanggung jawab moral dan sosial bagi orang tua dalam memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi secara optimal, serta menegaskan bahwa penyusuan merupakan bagian dari kasih sayang dan pengasuhan yang berlandaskan nilai keimanan, tanpa membatasi maknanya hanya pada aspek biologis, melainkan juga sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan.
Induksi laktasi merupakan sebuah proses stimulasi produksi ASI pada perempuan yang tidak sedang hamil atau baru saja melahirkan, dengan tujuan agar tetap dapat menyusui bayi. Metode ini menjadi solusi penting bagi ibu adopsi yang ingin memberikan pengalaman menyusui secara langsung kepada anaknya. Menyusui bukan hanya soal nutrisi, tetapi juga tentang kelekatan emosional antara ibu dan bayi. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan dukungan medis, kini ibu adopsi pun memiliki peluang untuk merasakan ikatan batin yang sama kuatnya dengan ibu biologis melalui proses induksi laktasi.
Secara fisiologis, induksi laktasi bekerja dengan meniru kondisi hormonal kehamilan dan pasca persalinan. Proses ini dapat dilakukan melalui kombinasi terapi hormonal, konsumsi obat-obatan tertentu seperti domperidone untuk merangsang produksi prolaktin, serta rangsangan mekanis seperti pemompaan payudara secara rutin. Dengan disiplin dan dukungan medis, sebagian besar ibu dapat mulai memproduksi ASI dalam hitungan minggu hingga bulan. Walaupun volume ASI yang dihasilkan mungkin tidak selalu sebesar ibu yang melahirkan secara biologis, proses ini tetap memberikan manfaat besar bagi tumbuh kembang bayi dan kedekatan ibu-anak.
Dari sisi psikologis, induksi laktasi juga memiliki nilai emosional yang sangat dalam. Bagi ibu adopsi, dapat menyusui anaknya sendiri adalah bentuk nyata kasih sayang dan pengabdian yang melampaui batas biologis. Aktivitas menyusui membantu membangun rasa percaya diri sebagai seorang ibu serta memperkuat hubungan afektif yang sangat penting bagi perkembangan psikologis bayi. Oleh karena itu, banyak praktisi kesehatan dan konselor laktasi mendorong agar induksi laktasi dijadikan salah satu pilihan dalam proses adaptasi ibu dan bayi adopsi.
Namun, keberhasilan induksi laktasi tidak hanya bergantung pada aspek medis semata. Dukungan lingkungan keluarga, terutama pasangan, sangat menentukan keberhasilan proses ini. Banyak ibu adopsi menghadapi tekanan sosial atau rasa ragu terhadap kemampuan tubuh mereka. Dalam hal ini, edukasi masyarakat dan pendampingan profesional sangat dibutuhkan agar ibu merasa dihargai dan termotivasi untuk melanjutkan prosesnya. Dengan bimbingan yang tepat, proses ini bukan hanya mungkin, tetapi juga bisa menjadi pengalaman spiritual dan emosional yang luar biasa.
Menurut dokter konselor laktasi dari HA-Medika Kendal, dr. Hayin Naila, induksi laktasi bukan sekadar proses biologis, tetapi juga bentuk perjuangan cinta seorang ibu terhadap anaknya. Konselor menegaskan bahwa banyak ibu adopsi yang berhasil memproduksi ASI dengan volume memadai berkat kesabaran, ketekunan, dan dukungan emosional dari lingkungan sekitar. Mereka menekankan pentingnya pendekatan individual, karena setiap ibu memiliki kondisi tubuh dan kesiapan mental yang berbeda. Oleh karena itu, keberhasilan induksi laktasi tidak diukur semata-mata dari banyaknya ASI yang keluar, melainkan dari keberhasilan membangun kedekatan dan rasa percaya diri ibu terhadap perannya.
Dokter Hayin juga menilai bahwa masyarakat perlu lebih terbuka terhadap konsep induksi laktasi. Masih banyak yang memandang bahwa hanya ibu kandung yang berhak menyusui, padahal menyusui pada dasarnya adalah bentuk kasih sayang universal. Dengan bimbingan medis dan konseling laktasi yang tepat, setiap perempuan berpotensi menjadi ibu menyusui, termasuk mereka yang mengadopsi anak. HA-Medika berkomitmen untuk terus memberikan edukasi, pendampingan, dan dukungan emosional bagi para ibu yang menjalani proses ini, agar mereka dapat merasakan kebahagiaan menyusui secara penuh.
Sebagai kesimpulan, induksi laktasi membuka ruang baru dalam dunia pengasuhan modern yang lebih inklusif dan berkeadilan emosional. Proses ini membuktikan bahwa menjadi ibu tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis, tetapi juga oleh cinta, komitmen, dan kesediaan untuk memberi yang terbaik bagi anak. Dengan dukungan tenaga kesehatan, konselor laktasi, serta keluarga, setiap ibu adopsi berhak dan mampu merasakan keajaiban menyusui. Induksi laktasi bukan hanya bentuk adaptasi medis, tetapi juga simbol kuat dari kasih sayang tanpa batas antara ibu dan anak.
Pantai Indah Kemangi atau biasa disebut PIK, yang berlokasi di Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal berhasil meraih juara pertama nasional untuk kategori Desa Wisata Bahari 2025 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Prestasi ini menegaskan bahwa desa pesisir di Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa memiliki potensi yang besar untuk tumbuh menjadi destinasi wisata unggulan.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa suatu desa mampu berkembang pesat apabila dikelola secara serius, profesional dan penuh kolaborasi berbagai pihak. Seperti halnya Pantai Indah Kemangi ini yang telah tumbuh berkat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari partisipasi masyarakat, pemerintah, swasta maupun dari institusi pendidikan.
Badan Pengurus Cabang (BPC), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kendal, pada tahun 2022 juga pernah melakukan audiensi dengan pengelola Pantai Indah Kemangi untuk menggali potensi. HIPMI Kendal melihat bahwa perkembangan Pantai Indah Kemangi begitu pesat dan mampu membangkitkan geliat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal sekitar. Penghargaan dari KKP ini juga membuktikan bahwa inovasi dan semangat lokal mampu bersaing di tingkat nasional.
“Penghargaan ini adalah buah kerja keras masyarakat, pengelola PIK dan seluruh pemangku kepentingan. Saya melihat Pantai Indah Kemangi menjadi contoh sukses bagaimana suatu desa bisa naik kelas melalui potensi wisatanya,” Kata Ketua Bidang X yang membidangi Infrastruktur, Tata Ruang, Properti dan Perhubungan, BPC HIPMI Kendal, Dani Satria, di Kendal, Jawa Tengah, Jumat (31/10/2025).
Dani menambahkan bahwa pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan kontribusi pemerintah saja. Kolaborasi dari tingkat kecil seperti desa atau kecamatan menjadi kunci agar masyarakat turut merasakan manfaat ekonomi yang nyata.
Dani sendiri pernah menulis kajian dalam jurnal ilmiah yang berjudul “The Potential of Pantai Indah Kemangi for Marine Tourism in Kendal” pada tahun 2024. Jurnal ilmiah tersebut telah dipublikasikan dan dipresentasikan dalam acara The 1st International Conference on Marine Tourism and Hospitality Studies (ICOMTHS) yang digelar pada 13 Oktober 2024 di Hotel The Rinra, Makassar.
“Wisata bahari di Jungsemi sekarang menjadi sumber penghasilan baru dan sekaligus utama bagi warga pesisir, terutama bagi UMKM lokal. Ini tentu membawa semangat baru bagi masyarakat untuk terus mengembangkan destinasi tersebut,” imbuh Dani.
Dani menilai keberhasilan Pantai Indah Kemangi merupakan momentum untuk memperkuat sektor pariwisata di wilayah Kecamatan Kangkung dan sekitarnya. Terlebih, banyak desa lain yang juga memiliki potensi serupa dan masih menunggu sentuhan pengembangan.Dani menambahkan, HIPMI Kendal akan berkomitmen untuk mengupayakan dan mengadvokasi berbagai pihak agar infrastruktur, tata ruang dan perhubungan di Pantai Indah Kemangi semakin baik dan representatif.
Pendiri Balai Konservasi Artefak Desa (Bakonardes), Dani Satria, telah menemukan fosil gastropoda yang memperkuat dugaan adanya Selat Muria pada masa lampau. Fosil ini ditemukan di wilayah Grobogan, Jawa Tengah, yang dikenal kaya dengan batuan sedimen laut dangkal.
Temuan tersebut berupa batu kapur berpori (limestone porous) dengan fragmen fosil di bagian tengah yang tampak terjepit di antara matriks batu. Bentuknya menunjukkan struktur spiral khas cangkang siput laut purba yang telah mengalami proses diagenesis panjang.
“Berdasarkan analisis awal, batuan induknya adalah batu kapur bioklastik, kemungkinan termasuk jenis coral limestone atau reef limestone dengan tekstur kasar dan berpori. Batuan ini umum terbentuk di lingkungan laut dangkal yang kaya akan organisme karbonat seperti karang, moluska, dan alga,” kata Pendiri Balai Konservasi Artefak Desa (Bakonardes), Dani Satria di Kendal, Jawa Tengah, Rabu (15/10/2025).
Dani menambahkan, fosil yang ditemukan memperlihatkan ciri morfologi khas dari kelas Gastropoda, dengan dugaan kuat berasal dari famili Turritellidae atau Cerithiidae. Keduanya merupakan siput laut yang hidup di dasar perairan hangat dan jernih, menandakan kawasan tersebut dahulu merupakan lingkungan laut aktif.
“Temuan ini memiliki nilai ilmiah penting karena menguatkan teori bahwa wilayah Grobogan dahulu berada di sekitar Selat Muria. Keberadaan batu kapur laut dangkal ini merupakan sisa aktivitas sedimentasi purba di sepanjang garis pantai selatan Pulau Muria purba,” imbuh Dani.
Menurut Dani, secara geologis batuan tersebut diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga Akhir (sekitar 11–5 juta tahun lalu). Periode ini merupakan masa ketika perubahan tektonik dan sedimentasi laut membentuk berbagai formasi batuan karbonat di Jawa Tengah bagian utara. Temuan Bakonardes ini diharapkan bisa menjadi pengembangan dari penelitian paleogeografi lanjutan mengenai rekonstruksi Selat Muria dan sejarah geologi pesisir utara Jawa.
Kasus penggerebekan home industry senjata api (senpi) rakitan di Lampung kembali mengungkap jaringan produksi ilegal. Polisi juga mengamankan para pelaku dan menemukan berbagai alat produksi yang digunakan dalam home industry senpi rakitan, di antaranya 1 set bor listrik, 1 alat potong gerinda, 1 set alat las, 1 buah silinder peluru, 2 buah laras, 1 buah penarik, 2 buah mata gerinda serta 5 buah per.
Selain itu, juga terjadi penembakan di Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, ketika seorang petani bernama K (40) ditembak satu kali di dada oleh pelaku yang menggunakan senjata api rakitan jenis revolver.
“Keberadaan senjata api rakitan ilegal juga meningkatkan potensi kekerasan dan mengancam keamanan publik. Oleh karena itu, pembuatan maupun peredaran senjata api ilegal harus dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap hukum dan etika sosial,” kata Kriminolog Hardiat Dani, di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (09/10/2025).
Hardiat menegaskan bahwa motif ekonomi tidak dapat dijadikan pembenaran atas produksi senjata api ilegal. Aktivitas tersebut merupakan bentuk perilaku yang secara langsung mengarah pada tindak kejahatan, karena senjata api rakitan kerap menjadi instrumen utama dalam berbagai aksi kriminal.
“Laporan warga menjadi kunci utama dalam memberantas jaringan pembuatan senjata rakitan karena aktivitas ini sering tersembunyi di lingkungan perkampungan. Aparat cenderung sulit menelusuri seluruh wilayah tanpa partisipasi aktif dari masyarakat,” imbuh Hardiat.
Hardiat menambahkan, selain faktor sosial dan ekonomi, kemajuan teknologi juga memperburuk situasi karena akses informasi tentang perakitan senjata kini semakin terbuka. Video daring dan media sosial menjadi sarana belajar cepat bagi pelaku, sementara penjualan amunisi dapat disamarkan melalui platform e-commerce.
Hardiat menambahkan, pemerintah perlu memperkuat edukasi hukum di tingkat desa agar masyarakat berani melapor bila mengetahui aktivitas mencurigakan agar jaringan home industry senpi dapat diputus dari akar.